Selamat datang pembaca, di situs ini kamu bisa menjelajahi ratusan macam buku. jangan lupa dipesan ya. semoga nyaman.!   Tukubooks Group adalah perusahaan perorangan yang telah beroperasi sejak Desember 2020. Kami bergerak di bidang penjualan buku original, dengan fokus utama yaitu untuk menyediakan beragam bacaan berkualitas bagi para pembaca muda di seluruh Indonesia dan mancanegara. Sebagai mitra resmi dari berbagai penerbit ternama di Indonesia, kami berkomitmen untuk selalu menghadirkan buku-buku berkualitas.   Hubungi Kami Gg. Temugiring No.123, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 Phone / WhatsApp. +62 818-8280-2368 E-mail: halo@tukubooksstore.id   International Shipping Malaysia - Singapore - Thailand - Philippines - Vietnam - Brunei - Timo Leste - South Korea - China - Japan - Taiwan - Hong Kong - Arab Emirates - Turkey - India - USA - Yunani - Italy - Poland - Portugal, and many other countries

The Silent Signal - M. Risat

 
Info
Status ( on/off ) on
Price 88000
Unit Price Pcs
Discount ( % ) 30
Weight ( Gram ) 300
Image ( Cover )


Image ( Gallery )
Variant
Status ( on/off ) off
Label Varian
Name Price
Reguler
+ Paket 1 3.500
+Paket 2 3.500










Marketplace
Status ( on/off ) on
Link Marketplace :
Judul : The Silent Signal
Genre : Nonfiksi
Penulis : M. Risat
ISBN        : 978-623-8371-77-8
Dimensi    : 13 x 20.5 cm
Halaman : 224 halaman
Harga : Rp88.000

GAMBARAN ISI BUKU 
Buku The Silent Signal adalah perjalanan menuju kedalaman batin, mengajak kita memahami 
bahwa hidup sesungguhnya selalu memberi tanda—hanya saja tidak selalu dalam bentuk yang 
mudah kita pahami. Fokus utama buku ini adalah mengajarkan pembaca untuk menangkap “sinyal halus” yang muncul dari dalam diri—melalui rasa, intuisi, getaran tubuh, kepekaan energi, serta frekuensi emosi.

SINOPSIS 
Di tengah dunia yang makin bising, banyak orang mulai kehilangan satu hal yang paling penting: kemampuan untuk mendengar dirinya sendiri.
Kita terus bergerak, berpikir, mengejar, dan bertahan. Namun, di balik semua itu, sering kali ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Ada keputusan yang terasa tidak selaras. Ada kekosongan yang tetap tinggal meski hidup tampak baik-baik saja.
Dan mungkin, jauh di dalam diri, sebenarnya ada sesuatu yang sejak lama mencoba berbicara kepada kita.

The Silent Signal mengajak pembaca memasuki perjalanan yang tenang dan mendalam—sebuah perjalanan untuk kembali mendengar bahasa jiwa yang sering tenggelam di balik kebisingan pikiran. Melalui refleksi, pengalaman hidup, kisah nyata, dan perenungan yang menyentuh, M. Risat menunjukkan bahwa hidup sesungguhnya selalu memberi tanda: lewat intuisi, rasa, keheningan, tubuh, bahkan lewat peristiwa-peristiwa kecil yang selama ini kita abaikan.
Buku ini mengajak untuk menjadi lebih hadir. Lebih peka terhadap diri sendiri. Lebih jujur terhadap apa yang sebenarnya dirasakan.
Dengan bahasa yang hangat dan lembut, The Silent Signal membantu pembaca memahami bagaimana pikiran dan hati dapat kembali selaras, bagaimana keheningan bisa menjadi ruang pemulihan, dan bagaimana jawaban hidup sering kali muncul bukan saat kita terus mencari, melainkan saat kita akhirnya berhenti sejenak untuk mendengar. Selama ini, hidup mungkin tidak pernah berhenti memberi jawaban; kitalah yang belum cukup hening untuk mendengarnya.
Sebagai Mind-Heart Connection Specialist, M. Risat menghadirkan gagasan-gagasan mental spiritual secara aplikatif melalui in-house training, seminar publik, buku, serta berbagai platform media sosial. Ia telah menekuni bidang ini secara konsisten sejak tahun 2008.

KUTIPAN-KUTIPAN MENARIK
Ketika kita terlalu sibuk mengejar suara dari luar, perlahan kita menjadi asing terhadap suara dari dalam.
Dunia memberi kita suara, pengalaman, dan peristiwa. Jiwa memberi makna atas semuanya.
Kita sering kali menunggu tanda besar–sesuatu yang mencolok, ajaib, atau mengguncang—seolah-olah kebenaran harus datang dengan suara keras agar bisa dipercaya.
Saya justru percaya bahwa hidup menjadi lebih utuh ketika logika dan kebijaksanaan batin berjalan berdampingan.
Jika kita mau mendengarkan, tubuh tidak hanya menjadi tempat berdiamnya jiwa, tetapi juga menjadi penuntun yang setia dalam perjalanan kita kembali menuju keseimbangan.
Hubungan antara pikiran, tubuh, dan jiwa bukanlah hubungan yang terpisah. Ketiganya hanyalah tiga bahasa yang berbeda yang digunakan kesadaran untuk berbicara kepada kita. Pikiran berbicara melalui kata-kata, jiwa berbicara melalui rasa, dan tubuh berbicara melalui sensasi.
Rasa sedih tanpa sebab bisa jadi merupakan tanda bahwa ada bagian dalam diri yang sedang meminta perhatian rasa bukanlah gangguan. Rasa adalah bahasa. Datang bukan untuk mengacaukan, melainkan untuk menyampaikan sesuatu.

Setiap kali kita mengabaikan intuisi, sebenarnya kita sedang menjauh sedikit dari kebijaksanaan terdalam dalam diri sendiri.

intuisi adalah bentuk logika yang lahir dari kebeningan jiwa.
Saya merasakan bahwa setiap niat baik membawa perubahan yang nyata pada suasana batin.
Ini adalah hukum semesta: apa yang kita pancarkan, dalam bentuk apa pun, pada waktunya akan kembali kepada kita sebagai pengalaman hidup.
Ada kalanya kita mengetahui sesuatu tanpa benar-benar tahu bagaimana kita mengetahuinya. Kita hanya merasa bahwa sesuatu itu tepat—atau sebaliknya, terasa tidak tepat—meskipun belum ada bukti yang bisa dijelaskan dengan logika.

Dalam bahasa jiwa, setiap emosi membawa pesan. Dan hati, adalah penerjemahnya.
Padahal tidak semua hal dalam hidup perlu dikontrol. Ada hal-hal yang hanya perlu dipahami. Ada juga yang hanya perlu diterima. Dan tidak sedikit yang memang harus dijalani tanpa penjelasan yang lengkap.

Padahal, hidup bukanlah proyek yang harus selalu sempurna. Hidup adalah perjalanan yang dijalani selangkah demi selangkah.
Kadang kita hanya perlu melangkah dengan kesadaran, sambil membiarkan kehidupan membuka jalannya sedikit demi sedikit.
pikiran sebagai navigator yang membaca peta, dan hati sebagai kompas yang menunjukkan arah. Tanpa peta kita bisa tersesat, tetapi tanpa kompas kita bisa kehilangan tujuan.
Hampir setiap kejadian besar dalam hidup sebenarnya berawal dari sinyal-sinyal kecil yang pernah kita abaikan.

Apa yang tampak mendadak di permukaan, sebenarnya hanyalah puncak dari proses panjang yang berjalan diam-diam di bawah kesadaran kita.
Saya makin percaya bahwa tidak ada masalah yang hadir tanpa membawa pesan. Apa pun yang datang dalam hidup kita selalu menyimpan makna yang ingin disampaikan.
Masalah adalah cermin yang diletakkan di depan kita. Masalah memantulkan bagian-bagian diri yang selama ini mungkin tidak kita lihat–atau tidak ingin kita lihat.
Setiap rasa sakit, kehilangan, kekecewaan sesungguhnya membawa pesan yang belum sempat disampaikan oleh jiwa kita sendiri.

Saya percaya, setiap luka yang dipahami dengan cinta akan berubah menjadi cahaya kecil di dalam diri. Dan dari cahaya-cahaya kecil itulah, perlahan-lahan, kita menemukan jalan pulang menuju diri yang lebih utuh dan lebih sejati.

Tubuh adalah pembicara terakhir dari jiwa yang penuh kesabaran, bagian dari diri yang terus menunggu sampai kita siap belajar hidup dengan lebih seimbang. Dan ketika kita akhirnya mulai memahami bahasanya, kita tidak hanya menjadi lebih sehat, tetapi juga menjadi lebih utuh sebagai manusia.
Ada kalanya hidup terasa seperti memutar ulang film yang sama. Pemerannya berganti, latarnya berbeda, tetapi alurnya terasa begitu mirip.

Ketenangan bukan membuat hidup bebas masalah. Ketenangan membuat kita mampu membaca pesan di balik setiap peristiwa.

Kebijaksanaan lebih suka hadir pada mereka yang bersedia duduk tenang, mengamati tanpa menghakimi, dan memercayai bahwa segala sesuatu akan menjadi jelas pada waktunya.

Mungkin itu sebabnya banyak ajaran kebijaksanaan menempatkan keheningan sebagai inti perjalanan batin. Sebab di sanalah kita berhenti mencari ke mana-mana, berhenti berlari dari rasa yang tidak nyaman, dan perlahan berhenti bersembunyi dari diri sendiri. Dalam keheningan, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa. Kita cukup menjadi ada.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, diam sering dianggap tidak produktif. Kita terbiasa merasa harus terus bergerak, seolah nilai diri diukur dari seberapa sibuk kita.

Banyak dari kita hidup dalam ritme yang terburu-buru. Berpindah dari satu hal ke hal lain tanpa sempat benar-benar berhenti. Tubuh terus bergerak, tetapi kesadaran sering tertinggal di masa lalu atau melompat ke masa depan. Tak heran kalau kelelahan datang tanpa sebab yang jelas.
Saya membayangkan diri ini seperti sebuah radio. Jika gelombang yang kita putar tidak tepat, suara yang terdengar hanyalah derak dan gangguan. Begitu pula dengan kesadaran kita. Saat hidup dipenuhi kecemasan, kemarahan, atau ketakutan, sinyal dari dalam menjadi samar dan sulit dikenali.
rasa adalah kompas yang menunjukkan arah, dan pikiran adalah peta yang membantu kita memahami jalannya.

Ketika keputusan dimulai dari kejernihan hati, pikiran biasanya mengikuti dengan cara yang lebih tenang dan bijaksana.
hubungan manusia bukan sekadar pertukaran kata, melainkan pertemuan energi yang hidup di antara dua jiwa.

Saya sering menemukan bahwa banyak hubungan menjadi tegang bukan karena kurangnya komunikasi, tetapi justru karena terlalu banyak kata tanpa kehadiran. Kita berbicara, tetapi tidak sungguh mendengar. Kita mendengarkan, tetapi pikiran kita sibuk menyiapkan jawaban. Akhirnya, percakapan hanya menjadi pertukaran kalimat, bukan pertemuan rasa.
Ketika jiwa mulai membimbing langkah, hidup terasa lebih selaras, meskipun jalannya tidak selalu mudah atau lurus.

Sebenarnya jiwa tidak terlalu peduli seberapa cepat kita sampai ke tujuan. Jiwa lebih peduli bagaimana kita menjalani setiap langkahnya.

salah satu tanda paling terasa ketika seseorang mulai selaras dengan jiwanya adalah hidup tidak lagi terasa seperti perjuangan tanpa arah.

Ketika seseorang selaras, ia bisa merasakan syukur tanpa harus menunggu sesuatu yang besar terjadi.

PUJIAN dan ENDORSEMENT
Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya kembali ke dalam diri di tengah bisingnya dunia modern saat ini. Sangat tepat bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kesadaran diri dan membangun komunikasi yang menyejukkan, agar dapat kembali utuh sebagai manusia.
—ERWIN PARENGKUAN, founder dan CEO TALKINC & Strategic Communication Coach
M. Risat melalui The Silent Signal tidak sekadar mengajak kita memahami hidup, tetapi mengembalikan kita pada pusat kesadaran yang sering terlewat—rasa yang jernih, hening, namun penuh arah. Buku ini tidak untuk dibaca terburu-buru, melainkan untuk dirasakan perlahan. Di dalamnya, kita diingatkan bahwa jawaban tidak lahir dari kebisingan pikiran, melainkan dari keheningan batin yang selaras dengan sumber kehidupan. Sebuah tulisan yang membawa pembaca kembali, bukan ke tempat, tetapi ke diri yang sebenar-benarnya.
—ERBE SENTANU, penulis Quantum Ikhlas, founder Katahati Institute

Buku The Silent Signal adalah pengingat yang lembut, bahwa tidak semua jawaban hidup datang dari suara yang keras. Sering kali, yang paling jujur justru hadir dalam diam, dalam rasa, dalam getaran kecil yang selama ini kita abaikan.
Di zaman ketika manusia terlalu sibuk berpikir, mengejar, dan membuktikan, buku ini mengajak kita pulang: mendengar hati, membaca tanda, dan mempercayai kebijaksanaan batin yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika.
Bagi saya, buku karya Kang Risat ini bukan sekadar bacaan spiritual, tapi cermin. Ia menuntun kita untuk sadar bahwa jiwa tidak pernah benar-benar diam. Kitalah yang mungkin terlalu bising untuk mendengarnya.
Sederhana, menyentuh, dan dalam. Buku ini layak dibaca pelan-pelan, bukan hanya dengan mata, tapi dengan hati.
—ABU MARLO, founder Dialogue Positive Podcast

Lewat alam, naik gunung, memasak sederhana, hingga menyusuri desa-desa sunyi … aku pelan-pelan belajar bahwa silence bukan tentang sepi, melainkan ruang untuk kembali mendengar diri sendiri.
The Silent Signal karya Kang Risat mengingatkan kita bahwa hidup selalu memberi tanda, sign, thru intuisi, rasa, dan keheningan yang sering kali tenggelam di tengah hiruk pikuk dunia.
Buku ini terasa seperti mengajak kita pulang kembali ke rumah di dalam diri, tempat hati menjadi lebih jernih dan kesadaran terasa lebih utuh.
A book to feel, not only to read.
—GLADYS SUWANDHI, Aktris, Model, dan Penyanyi Senior Indonesia

The Silent Signal karya Kang Risat ini mengajak kita untuk peka dan jujur terhadap signal atau tanda-tanda yang ada pada diri kita baik yang berasal dari hati seperti ilham, firasat, dll. Maupun dari luar diri kita yang dihadirkan Allah melalui semesta baik dari kejadian-kejadian, pertemuan-pertemuan, bahkan dari hal yang tidak kita harapkan. Semuanya mempunyai makna eksklusif untuk diri kita sendiri sehingga ketika kita sudah melewati tahapan kontemplasi, kita dapat memutuskan jalan dan langkah apa yang terbaik buat kita masing-masing.
—IVANKA, pemain bas Slank

The Silent Signal - M. Risat

The Silent Signal - M. Risat

The Silent Signal mengajak pembaca memasuki perjalanan yang tenang dan mendalam—sebuah perjalanan untuk kembali mendengar bahasa jiwa yang sering teng
Pesan via WhatsApp! - Proses Pemesanan Mudah ( via WhatsApp ) Instan checkout, tanpa registrasi / login.

Pesan via WhatsApp!

Proses Pemesanan Mudah ( via WhatsApp ) Instan checkout, tanpa registrasi / login.

Pengiriman Fleksibel - Kami menyediakan Layanan Pesan - Ambil ( Pickup ) & Pesan - Antar ( Delivery )

Pengiriman Fleksibel

Kami menyediakan Layanan Pesan - Ambil ( Pickup ) & Pesan - Antar ( Delivery )

Metode Pembayaran Lengkap - Bayar via Bank Transfer, E-Wallet atau PayPal? Bisa banget!

Metode Pembayaran Lengkap

Bayar via Bank Transfer, E-Wallet atau PayPal? Bisa banget!

Tukubooks Group

Tukubooks Group adalah perusahaan perorangan yang telah beroperasi sejak Desember 2020. Kami bergerak di bidang penjualan buku original, dengan fokus utama yaitu untuk menyediakan beragam bacaan berkualitas bagi para pembaca muda di seluruh Indonesia dan mancanegara. Sebagai mitra resmi dari berbagai penerbit ternama di Indonesia, kami berkomitmen untuk selalu menghadirkan buku-buku berkualitas.

Hubungi Kami

Gg. Temugiring No.123, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284
Phone / WhatsApp. +62 818-8280-2368
E-mail: halo@tukubooksstore.id

International Shipping

Malaysia - Singapore - Thailand - Philippines - Vietnam - Brunei - Timo Leste - South Korea - China - Japan - Taiwan - Hong Kong - Arab Emirates - Turkey - India - USA - Yunani - Italy - Poland - Portugal, and many other countries

Partner Ekspedisi

The Silent Signal - M. Risat https://www.tukubooksstore.id/2026/10/the-silent-signal-m-risat.html
( 0 ) 0