Judul : Waking the Tiger
Genre : Nonfiksi
Penulis : Peter A. Levine bersama Ann Frederick
ISBN : 978-623-8371-73-0
Dimensi : 13 cm X 20.5 cm
Halaman : 328 halaman
Harga : Rp 115.000
SINOPSIS (BLURB)
Selama ini kita diajarkan bahwa trauma adalah luka pada pikiran—sesuatu yang harus dipahami, dianalisis, bahkan ditekan. Namun, Waking the Tiger membalik asumsi itu: Trauma bukan sekadar cerita di kepala, melainkan energi yang terperangkap dalam tubuh—dan tubuhlah yang menyimpan kunci penyembuhannya.
Melalui pendekatan yang menggabungkan sains, pengalaman klinis, dan kebijaksanaan tubuh, pembaca diajak menelusuri bagaimana trauma terbentuk, mengapa ia bertahan begitu lama, dan—yang paling penting—bagaimana ia bisa dilepaskan tanpa harus mengulang penderitaan. Buku ini menunjukkan bahwa gejala seperti kecemasan, panik, hingga rasa terjebak bukanlah kelemahan, melainkan respons alami tubuh yang belum terselesaikan.
Buku ini menawarkan cara baru untuk "mendengar" tubuh: memahami sensasi, mengikuti naluri, dan mengaktifkan kembali kapasitas alami untuk pulih. Pendekatan ini tidak memaksa Anda melawan diri sendiri, tetapi justru bekerja selaras dengan mekanisme biologis terdalam Anda.
Pada akhirnya, trauma bukanlah hukuman seumur hidup, melainkan proses yang bisa dituntaskan, bahkan ditransformasi menjadi kekuatan untuk hidup yang lebih utuh, sadar, dan bermakna.
GAMBARAN ISI BUKU
Buku ini adalah karya klasik dalam bidang penyembuhan trauma. Peter Levine memperkenalkan pendekatan Somatic Experiencing, yaitu metode penyembuhan trauma berbasis tubuh (body-oriented therapy). Inti pemikiran Levine: trauma bukan semata gangguan psikologis, melainkan respons fisiologis yang tertahan (energi terjebak dalam sistem saraf). Dengan memahami dan membebaskan energi itu, manusia dapat pulih, bahkan bertumbuh.
Struktur buku terbagi menjadi empat bagian:
Tubuh Sebagai Penyembuh–teori dasar tentang trauma, fisiologi tubuh, dan prinsip “felt sense” (kesadaran tubuh).
Inti Reaksi Traumatis–penjelasan gejala trauma, dari hiperarousal, disosiasi, hingga helplessness.
Transformasi–proses transformasi trauma menjadi kekuatan penyembuhan.
Pertolongan Pertama–panduan praktis menghadapi trauma segera setelah peristiwa, termasuk untuk anak-anak.
SELLING POINTS
Inovatif dan Visioner: memperkenalkan pendekatan baru yang kini menjadi salah satu metode terapi trauma terkenal di dunia.
Bahasa Aksesibel: walau topiknya kompleks (neurosains, fisiologi), ditulis dengan metafora, kisah nyata, dan ilustrasi praktis.
Relevan Global dan Lokal: Indonesia sering menghadapi trauma kolektif akibat bencana alam, konflik sosial, maupun kekerasan domestik. Buku ini bisa menjadi referensi penting.
Perpaduan Teori dan Praktik: tidak hanya wacana ilmiah, tetapi juga latihan sederhana yang bisa dipraktikkan pembaca.
ENDORSEMENT
Tiap kehidupan mengandung kesulitan dan kita tak selalu siap menghadapinya. Bacalah, belajarlah, bersiaplah untuk kehidupan dan penyembuhan.
-Bernard S. Siegel, M.D., penulis buku-buku laris Love, Medicine & Miracles; Peace, Love, and Healing
Sangat menarik! Menakjunkan! Penjelasan revolusioner atas efek fisiologis dan penyebab trauma—memperluas pemahaman kita atas akalbudi dan perilaku manusia lewat pengalaman. Gagasan-gagasannya tentang cara menyelesaikan dan menyembuhkan trauma begitu sederhana. Dia menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa trauma bisa disembuhkan dan dituntaskan. Trauma bukan derita seumur hidup. Buku ini wajib dibaca para profesional maupun orang awam. Memahami dan menyembuhkan trauma boleh jadi dapat mencegah umat manusia menghancurkan diri sendiri.
Mira Rothenberg, Direktur Emeritus Blueberry Treatment Centers for Disturbed Children, penulis Children With Emerald Eyes
Buku ini amat kaya gagasan terkait salah satu bidang paling penting dalam hidup kita. Penalarannya bagus, tulisannya menyentuh, dan mudah dibaca. Karya Levine penuh implikasi luas, dasar sains kokoh, dan pemikiran jernih. Buku yang sangat penting. Mungkin buah pikiran seorang jenius.
Ron Kurtz, penulis The Body Reveals dan Body-Centered Psychotherapy.
Buku ini memperkenalkan Pengalaman Somatik (Somatic Experiencing), pendekatan orisinal dan saintifik untuk menyembuhkan trauma. Pendekatan penanganan ini berakar di pemahaman atas komunikasi dua arah antara pemikiran dan fisiologi. Dengan efektif, Levine menjelaskan bahwa tubuh adalah penyembuh dan bekas luka trauma psikologis bisa dipulihkan—tapi hanya jika kita mendengar suara tubuh kita.
Stephen W. Porges. Ph.D., Professor of Human Development and Psychology, peneliti University of Maryland yang meneliti dasar neurofisiologis pengaturan emosi, stres, dan kesehatan.
Perjalanan memukau dan menyentuh melalui labirin trauma, memadukan wawasan evolusioner dan praktik klinis pragmatis. Kita tak bisa tidak tertarik dengan teori traumatisasi dan transformasi Dr. Levine—suatu sumbangsih vital ke sains interaksi akalbudi/tubuh dalam penanganan penyakit yang menarik dan sedang tumbuh.
Robert C. Scaer, M.D., Neurology Medical Director, Rehabilitation Services, Boulder Community Hospital Mapleton Center, Boulder, CO
Levine mengetahui bagaimana cara bergerak maju melampaui trauma dengan melibatkan proses-proses tubuh yang seharusnya terjadi, bukan hanya mengulang apa yang sudah terjadi.
Eugene Gendlin, Ph.D., pengembang Focusing
Peter Levine tetap berada di garis depan kreatif penyembuhan, dengan berani terjun ke wilayah tak dikenal. Dia selalu konsisten—mengembangkan pemahaman atas trauma, mendasarkannya ke jaringan tubuh, dan menyembuhkannya. Ini buku yang sudah lama ditunggu pihak-pihak yang mempelajari proses penyembuhan.
Don Hanlon Johnson, Ph.D., penulis, Professor of Somatics, California Institute of Integral Studies
Karya Levine menemukan penyebab Gangguan Stres Traumatik yang sebenarnya, sehingga menjelaskan mengapa metode psikiatri dan psikologi untuk penanganan trauma memiliki keterbatasan. Pendekatannya memperkenankan kita “mengakses masalah di akar psikologisnya lewat rasa. Kebijaksanaan rasa memberi kita naluri hewani sekaligus akal manusia. Tanpa keduanya, kita pasti terjebak dalam rasa permusuhan sampai kita semua binasa. Bila keduanya bekerja sama, kita bisa bergerak maju di jalur evolusi dan menjadi makin manusiawi—bisa menggunakan semua kapasitas diri—bisa mempersepsi dan menikmati dunia—bisa membawa anak-anak kita ke dunia yang relatif aman.”
Dolores La Chapelle, Direktur, Way of the Mountain Center, guru Deep Ecology, ski, dan tai chi
Saya anggap karya Peter Levine sangat menarik, karena menawarkan cara efektif menangani trauma mendalam yang sering ditemukan di kasus sandera, korban pengeboman, dan korban terorisme lain (berikut keluarganya, yang sering ikut menjadi korban juga). Dalam pekerjaan saya di Departemen Luar Negeri AS, dan sesudahnya sebagai konsultan penanganan insiden terorisme, saya belajar bahwa kita memerlukan campuran khusus kesabaran, welas asih, dan pemahaman. Prosedur yang tepat secara klinis diperlukan untuk mengenali lapisan-lapisan pengalaman traumatis yang barangkali terlibat, dan untuk membantu korban sembuh dengan menghilangkan lapisan-lapisan itu. Siapa pun yang harus menghadapi kasus-kasus trauma perlu membaca buku ini dan mendapatkan bantuan Peter Levine. Dia tidak menawarkan formula, tapi dia tahu dan menjelaskan jalur penting ke sana.
Terrell E. (Terry) Arnold, mantan Deputy Director, Office of Counterterrorism, Departemen Luar Negeri AS; penulis The Violence Formula
KUTIPAN-KUTIPAN MENARIK
Untungnya, energi besar yang menyebabkan gejala-gejala trauma bisa mengubah trauma dan mendorong kita ke penyembuhan, penguasaan, dan bahkan kebijaksanaan, kalau energi itu dihadapi dan diarahkan dengan tepat.
Manusia memiliki kapasitas bawaan untuk menyembuhkan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga dunia kita, dari efek buruk trauma.
Penyembuhan trauma bergantung kepada pengakuan atas gejala-gejalanya.
Menggali ingatan lama dan memunculkan kembali rasa sakit emosional itu tidak diperlukan untuk menyembuhkan trauma. Malah, rasa sakit emosional yang parah bisa menambah trauma.
Trauma bisa menghancurkan kualitas hubungan kita dan menyimpangkan pengalaman seksual kita.
Penyembuhan trauma adalah proses alami yang bisa diakses lewat kesadaran batin atas tubuh.
Kita harus menyadari bahwa mengubah peristiwa masa lalu itu mustahil dan tak perlu.
Lebih mudah mencegah trauma daripada menyembuhkannya.
Trauma sudah menjadi sebegitu lazim sehingga sebagian besar orang bahkan tidak menyadari keberadaannya.
Putusnya hubungan antara tubuh dan jiwa adalah salah satu efek terpenting trauma.
Jika Anda merasa kewalahan, mungkin itu karena Anda melangkah terlalu jauh. Kali berikutnya, melambatlah.
Belajar mengenal diri sendiri lewat indra rasa adalah langkah pertama ke arah penyembuhan trauma.
Biarkan apa pun yang Anda alami membawa Anda ke pengalaman berikutnya.
Gejala trauma kadang meniru atau menciptakan kembali peristiwa yang menimbulkannya
Gejala-gejala pertama trauma biasanya muncul tak lama sesudah peristiwa yang menimbulkannya.
Gejala-gejala trauma bisa stabil (selalu ada), tidak stabil (datang dan hilang), atau tersembunyi selama puluhan tahun. Gejala-gejala itu biasanya tidak terjadi sendiri-sendiri, tapi secara berkelompok.
Bila kita menderita trauma, hubungan antara energi hidup dan emosi negatif sangat erat sehingga kita tak bisa membedakan keduanya.

