Judul : Why Weren’t We Taught This at School
Genre : Nonfiksi
Penulis : Alice Sheldon
ISBN : 978-623-8371-72-3
Dimensi : 13 cm X 20.5 cm
Halaman : 296 halaman
Harga : Rp 105.000
GAMBARAN UMUM
Sekolah sibuk mengajarkan kita menghafal perkalian, tata bahasa, dan rumus sains, tapi jarang membekali kita dengan keterampilan untuk mengambil keputusan sulit, mengelola emosi, atau menjalin relasi sosial yang sehat. Buku ini hadir untuk menutup kesenjangan itu.
Buku karya Alice Sheldon ini terbagi atas 4 bagian dengan 9 bab. Setiap bagian dilengkapi dengan Kotak Jeda—ruang refleksi singkat yang membuat pembaca bisa berhenti sejenak, merenung, lalu langsung mengaitkan isi buku dengan pengalaman sehari-hari.
Alice Sheldon memperkenalkan dan memopulerkan konsep Needs understanding. Sebuah konsep dan pendekatan komunikasi yang sangat kuat serta berfokus pada memahami kebutuhan mendasar di balik perilaku, emosi, dan konflik manusia. Kunci utama dalam Needs Understanding adalah menggali kebutuhan yang belum terpenuhi sehingga memungkinkan solusi atau hubungan yang lebih harmonis.
Alice Sheldon memulai dari dua prinsip dasar:
1. Perilaku manusia selalu merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan.
2. Dunia bekerja lebih baik ketika strategi yang kita pilih menghargai kebutuhan semua orang.
Alice Sheldon mengajarkan empat keterampilan inti dalam memahami kebutuhan (Needs Understanding):
• Mendengarkan dengan Empati: belajar mengenali cara mendengarkan yang menghalangi koneksi (how not to listen) sekaligus cara mendengarkan yang penuh empati (how to listen).
• Memahami Diri Sendiri dengan Belas Kasih: memahami diri melalui konsep “kebutuhan sidik jari” (fingerprint needs), yakni pola kebutuhan unik tiap orang.
• Berbicara agar Didengar: berbicara dengan cara yang membuat pesan lebih mungkin diterima.
• Bertindak dengan Memedulikan Kebutuhan Semua Orang: mencari solusi yang menghargai kebutuhan (walk around the mountain) semua orang.
Buku ini dilengkapi dengan alat bantu praktis yang bisa digunakan sembari kita membaca dan berefleksi. Misalnya:
1. Daftar Kebutuhan: kosakata kebutuhan dasar manusia.
2. Daftar Perasaan: kosakata emosi yang membantu validasi diri maupun orang lain.
3. Daftar Perasaan Palsu: kosakata perasaan “palsu” yang sebenarnya sinyal kebutuhan tak terpenuhi (misalnya diabaikan, ditolak, tidak dicintai).
4. Daftar Sensasi Fisik: kosakata reaksi tubuh seperti sesak dada, jantung berdebar, atau wajah memanas, yang bisa menjadi akses untuk memahami emosi.
SINOPSIS
Pernahkah Anda merasa sudah berusaha menjelaskan diri sebaik mungkin, tetapi tetap tidak dipahami? Adakah momen Anda terjebak dalam konflik yang terus berulang—di rumah, di tempat kerja, bahkan di dalam diri sendiri—tanpa tahu cara memutuskannya?
Sejak kecil kita diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Namun, hampir tidak ada yang mengajarkan bagaimana memahami perasaan kita sendiri, mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh, menyampaikan kebutuhan tanpa memicu pertengkaran, atau menemukan solusi yang membuat semua pihak merasa dihargai.
Alice Sheldon adalah lulusan Universitas Oxford dengan gelar MA Psikologi dan Neurofisiologi. Dikenal sebagai pencetus konsep Needs Understanding. Alice memperkenalkan sebuah rahasia sederhana yang mampu mengubah cara kita memandang kehidupan: Di balik setiap tindakan manusia terdapat kebutuhan yang sedang berusaha dipenuhi.
Dengan langkah-langkah yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, buku yang hangat dan praktis ini menawarkan keterampilan untuk memperkuat hubungan, meredakan konflik, dan membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih tenang dan bijaksana.
Why Weren’t We Taught This at School? adalah buku yang akan membuat Anda melihat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari pemahaman yang sederhana. Buku ini merupakan panduan yang mengajarkan keterampilan hidup yang seharusnya dimiliki setiap orang—agar kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat, menjalani hidup dengan lebih bermakna, dan menciptakan dunia yang sedikit lebih penuh pengertian.
KUTIPAN MENARIK
Empati bisa menciptakan koneksi amat dalam—jadi, kenapa kita jarang melakukannya? Sebab, kita sering takut. Takut bahwa jika kita memahami orang lain, kita terpaksa mesti menyetujui segala keinginannya dengan mengorbankan kebutuhan kita sendiri.
Ketika kita menganggap hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah, itu biasanya pertanda bahwa kita telah lupa melihat kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. Padahal, hampir selalu ada begitu banyak kemungkinan lain yang dapat memenuhi kebutuhan semua pihak.
Semua perilaku manusia merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Kita terbiasa, secara tanpa sengaja, mengabaikan perasaan orang lain saat kita memberikan nasihat atau pendapat alih-alih mendengarkan sepenuhnya terlebih dahulu.
Mendengarkan dengan empati adalah langkah pertama untuk memahami kebutuhan mendasar seseorang, yang pada gilirannya dapat mengarah kepada percakapan yang produktif dan bermanfaat.
Empati menciptakan kualitas koneksi yang memperkaya hubungan dan terasa menyenangkan.
Ketika seseorang merasa benar-benar dipahami, energi mereka secara alami bergeser ke mode penyelesaian masalah tanpa harus mengerahkan banyak usaha.
Menyadari bahwa "setiap perkataan dan tindakan seseorang adalah upaya untuk memenuhi kebutuhannya" akan membantu Anda memahami mereka lebih dalam.
Mengenali kebutuhan Anda berarti belajar merawatnya dengan cara yang baik bagi diri Anda dan orang lain.
Isi tangki internal Anda secara sadar—itu menjadi fondasi untuk dapat hadir secara penuh bagi diri sendiri dan orang lain.
PUJIAN atau ENDORSEMENT
“Saya berandai-andai hal ini sudah diajarkan di sekolah. Ini benar-benar dapat mengubah hidup—bukan hanya hidup Anda, melainkan juga hidup orang-orang di sekitar Anda. Keterampilan ini, setelah dipelajari dan dipraktikkan, pasti meningkatkan kualitas hidup Anda.”
—Tony Hawks MBE, penulis Round Ireland with a Fridge
“Buku ini mengandung pelajaran berlimpah tentang bagaimana membangun koneksi dan memahami orang lain melalui tindakan sederhana yang efektif, tetapi kerap diabaikan, yaitu mendengarkan. Mendengarkan orang lain dan mendengarkan diri kita sendiri. Di era sekarang ketika begitu banyak orang hidup makin terisolasi dan hanya berteman gawai, kehadiran buku ini terasa lebih dibutuhkan daripada masa-masa sebelumnya. Ini mengandung kotak peralatan yang serbaguna—tempatkan di dekat Anda dan bukalah sesering mungkin.”
—Jim Carter OBE dan Imelda Staunton CBE, aktor
“Mengapa kita tidak diajari ini di sekolah?" merupakan pertanyaan yang jitu. Menyadari bahwa di balik setiap perilaku yang bermasalah—yang kita alami sendiri maupun yang kita alami dari orang lain—selalu ada kebutuhan tertentu yang belum terpenuhi dan sedang dicoba dipenuhi, yang memberikan kejernihan pada hampir setiap interaksi manusia. Itulah saran Alice Sheldon di buku ini. Para pembaca akan menemukan pengalaman mereka sendiri dalam konteks pemenuhan kebutuhan, beserta proses untuk mengidentifikasi serta memenuhi kebutuhan tersebut. Buku yang direkomendasikan untuk semua orang.”
—Dr. Harville Hendrix & Dr. Helen LaKelly Hunt, penulis Getting the Love You Want: A Guide for Couples
“Buku Alice Sheldon yang penuh wawasan ini menelaah berbagai hambatan yang kerap kita temui saat berinteraksi dengan orang lain. Solusinya brilian, mudah dipahami, serta efektifnya dalam konteks pribadi maupun profesional. Buku ini menyediakan seperangkat alat ampuh untuk membangun hubungan yang jujur, penuh empati, dan berdampak kuat.”
—Sharif Shivji QC, pakar hukum komersial
“Kemampuan membangun hubungan dengan beragam orang adalah kunci kesuksesan di dunia kerja. Dengan menerapkan alat dan prinsip di buku ini, para pemimpin di berbagai level dapat menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang-orang merasa terlibat, dihargai, dan mendorong solusi kreatif dan efisien dalam pelbagai situasi yang pelik sekalipun. Sebuah bacaan wajib bagi para pemimpin abad ke-21.”
—John Odell, direktur salah satu perusahaan jasa konsultasi “Big Four”
“Akhirnya, Alice Sheldon menuangkan pendekatannya yang brilian, Needs Understanding, ke dalam sebuah buku! Prinsip ini telah menjadi kerangka kerja andalan saya selama bertahun-tahun, ketika menghadapi "percakapan alot". Jika pendekatan Kecerdasan Emosi (EQ) membantu kita mengelola emosi, maka pendekatan Needs Understanding melangkah lebih jauh lagi—memberikan cara praktis, sederhana, dan transformatif untuk menyelesaikan konflik tanpa ada pihak yang dirugikan, hubungan tetap terjaga, dan semua orang berkembang. Buku ini akan mengubah cara kita dalam membangun relasi dan menyelesaikan masalah dengan penuh empati. Menerapkan konsep-konsep di buku ini adalah salah satu hal paling efektif untuk mengubah hubungan Anda dan berkontribusi pada penciptaan dunia yang lebih sehat, bahagia, dan berkelanjutan.”
—Heather Monro, instruktur eksekutif Brightspace
“Sekarang, lebih dari waktu-waktu sebelumnya, kita perlu saling merangkul dan membangun hubungan yang lebih tulus—baik dengan rekan kerja, sahabat, maupun anggota keluarga. Buku ini sarat dengan kisah-kisah personal, contoh-contoh yang gamblang, serta keterampilan praktis untuk menumbuhkan empati dan kolaborasi.”
—Mark Pilkington, pemimpin bidang penjualan dan pemasaran di industri perjalanan
“Buku ini sangat mudah diikuti dan menyenangkan dibaca. Setiap halamannya penuh dengan strategi praktis untuk menciptakan hasil yang lebih baik bagi semua pihak. Pengalaman Alice di bidang ini benar-benar nyata, dan dia menyajikan argumen jernih tentang manfaat menerapkan pendekatan Needs Understanding baik di lingkungan kerja maupun kehidupan pribadi.”
—Matthew Wait, CFO perusahaan pendidikan global terkemuka
“Buku ini merupakan salah satu buku paling berdampak yang pernah saya baca selama bertahun-tahun. Pelajaran dan latihannya sederhana, tetapi memiliki kekuatan untuk mengubah cara kita berinteraksi dengan diri sendiri dan orang lain. Ya, mengapa kita tidak diajari semua ini di sekolah? Kita sering tertatih-tatih menjalani hidup tanpa benar-benar memahami bagaimana sesuatu bekerja. Buku ini membuka mata kita dan memberikan panduan untuk membantu kita menjadi manusia yang utuh dan luar biasa sebagaimana kita dilahirkan.”
—Veronica Munro, instruktur eksekutif, penulis, dan seniman
“Buku ini ditulis dengan sangat apik dan mengingatkan saya pada hal-hal yang dulu saya pikir sudah saya pahami—tetapi entah bagaimana tidak selalu berhasil saya hadirkan dalam setiap interaksi. Saya teringat percakapan-percakapan terakhir ketika saya "seharusnya" tahu lebih baik, tetapi tetap saja terjebak dalam versi diri yang belum terbaik. Alice berempati dengan pembaca seperti saya karena dia pun pernah berada di posisi itu. Saya tahu, buku ini akan terus saya baca kembali berkali-kali.”
—Dr. Belinda Hopkins, penulis The Restorative Classroom dan Direktur Transforming Conflict
“Buku ini begitu menyegarkan. Alice mengajak kita untuk memahami diri sendiri serta bagaimana kebutuhan kita memengaruhi komunikasi dan hubungan dengan orang lain. Bagi siapa pun yang berinteraksi dengan manusia lain dari kalangan usia yang beragam, buku ini benar-benar bersifat transformatif. Harapan saya, inilah yang akan dipelajari oleh generasi berikutnya di sekolah.”
—Lily Horseman, Ketua Forest Schools Association
“Alice menulis sebuah buku yang mudah dibaca dan menjabarkan strategi sederhana yang mudah diterapkan. Kita jadi bertanya-tanya, mengapa kita tidak melakukannya sejak dulu? Ketika membaca setiap halamannya, saya terkesan dan terilhami, “saya harus membagikan ini kepada siapa saja." Buku ini hadir di saat yang tepat—ketika isu kesehatan mental makin menonjol, dan kita seolah-olah dibombardir perselisihan di media sosial. Buku ini semestinya menjadi bacaan wajib bagi para pemimpin politik kita.”
—Adam Barber, Kepala Sekolah Henleaze Junior School
“Buku ini bersifat penuh kasih, relevan, dan membumi. Bacaan yang penting bagi para guru di sekolah atau siapa pun menghendaki dapat belajar dengan cara yang berbeda.”
—Fionnuala Kennedy, Kepala Sekolah Wimbledon High School
“Alice menulis dari pengalaman hidupnya sendiri. Prinsip-prinsipnya sederhana, tetapi sangat kuat, dan ditulis dengan struktur yang jelas serta mudah dipraktikkan. Buku ini akan menginspirasi siapa pun untuk membuat perbedaan nyata dalam berinteraksi—dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia.”
—Gabriele Grunt, instruktur komunikasi dan pendidik
“Sebuah panduan yang amat sederhana dan indah tentang keterampilan berinteraksi yang sangat kita butuhkan, tetapi jarang sekali kita sadari dan kuasai. Buku ini seharusnya menjadi bagian dari kurikulum semua orang untuk menciptakan dunia yang lebih damai.”
—Dr. Scilla Elworthy, tiga kali nominasi Nobel Perdamaian
“Buku ini menawarkan analisis yang kaya tentang bentuk-bentuk komunikasi yang penuh belas kasih dan empati. Di dunia yang begitu terpecah belah, mencurahkan perhatian dan kepedulian untuk mentransformasi konflik dan memelihara hubungan yang tulus dan empatik tampaknya lebih diperlukan daripada waktu-waktu sebelumnya. Karena itu, pendekatan Needs Understanding merupakan harta karun yang diperlukan pada saat yang tepat.”
—Nomisha Kurian, Wakil ketua Cambridge Peace & Education Research Group
“Buku ini adalah sebuah panduan yang empatik dan cerdas untuk menciptakan dunia dengan lebih sedikit konflik dan lebih banyak belas kasih. Buku ini mudah diikuti, sarat analogi, serta kaya akan aneka alat yang menuntun dan menghadirkan kejernihan—seakan-akan kita menyalakan lampu di ruang-ruang batin yang sebelumnya gelap dan samar.”
—Gina Lawrie, fasilitator Nonviolent Communication
“Buku ini menjadi panduan penting bagi siapa pun yang ingin berkontribusi pada dunia yang menghargai setiap orang—sebuah undangan untuk memperluas hati dan memperhalus kehadiran kita. Saya menghabiskan sisa hidup untuk ‘menjadi perubahan yang ingin saya lihat di dunia’, dan buku ini akan selalu ada di daftar bacaan saya untuk hidup yang lebih bermakna.”
—Maria Arpa MBE, Direktur Eksekutif Center for Nonviolent Communication
“Sebuah buku yang penuh semangat, sarat kebijaksanaan, dan autentik—sarat pelajaran yang lahir berdasarkan pengalaman nyata yang telah ditempa hingga matang. Keterampilan yang dipaparkan di sini sederhana, tetapi sama sekali tidak menyederhanakan hal yang kompleks. Sebuah panduan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan terampil.”
—Malcolm Stern, psikoterapis dan penulis
“Gagasan-gagasan di dalam buku ini benar-benar memiliki daya transformasi yang mendalam. Sendainya setiap orang membacanya, dunia akan jauh lebih terhubung dan damai. Ditulis dengan kecerdasan, kejujuran, dan penuh belas kasih. Panduan yang tulus dan langka.”
—Cheryl Garner, psikoterapis dan instruktur pengasuhan
“Buku ini hadir pada saat yang tepat dan sangat dibutuhkan—tentang bagaimana menata ulang cara kita berinteraksi satu sama lain. Dipenuhi nasihat yang jernih serta latihan-latihan praktis, Alice menguraikan gagasan-gagasan mendasar bagi kebutuhan dan tindakan bawah sadar kita. Buku ini kita perlukan di tengah dunia yang makin kompleks dan sulit. Lebih dari apa pun, buku ini mengajak kita bagaimana menjadi manusia yang terampil sekaligus penuh kasih, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Sebuah buku untuk zaman kita.”
—Monique Roffey, pemenang Costa Book of the Year 2020
SELLING POINTS
Praktis dan aplikatif, dilengkapi toolkit yang sangat membantu seperti daftar kebutuhan manusia, daftar emosi/perasaan, dan latihan refleksi.
Menyediakan panduan “how not to listen”, hal yang jangan dilakukan saat mendengarkan orang lain yang sedang menyampaikan kebutuhannya. Ini jarang ditemukan di buku pengembangan diri/komunikasi lain.
Menawarkan konsep fingerprint needs yang memperkaya pemahaman tentang keunikan tiap individu.
Ada diagram (untuk memecah kebosanan karena terus-terusan disuguhkan teks) serta contoh kalimat praktis yang semoga bisa diterapkan / relevan dengan gaya bicara orang Indonesia.
Ada panduan guna memahami kebutuhan pribadi (misalnya mengenali monster judgmental yang ada di dalam diri setiap orang)
Ada panduan untuk membebaskan diri dari situasi-situasi sulit: misalnya hal-hal yang memicu (triggering) reaksi fight-flight-freeze-fawn; penyesalan yang memerangkap kita dalam situasi-situasi tidak mengenakkan/memalukan di masa lalu, dll.
Menekankan pada kebutuhan (needs understanding): tema yang jarang ditawarkan oleh banya buku pengembangan diri lain. Sementara buku pengembangan diri lain seringnya berfokus pada core values yang abstrak, saran-saran dalam buku ini jadi terasa lebih konkret dan aplikatif.
.jpg)
.jpg)